part 3

 

SAAT PENGKHIANATAN MULAI MEMAKAN DIRINYA SENDIRI

Tak ada yang langsung hancur dalam semalam.
Kehancuran selalu datang perlahan…
seperti racun yang menetes sedikit demi sedikit.

Dan itulah yang kini dirasakan Arman.

RUMAH TANGGA YANG TAK LAGI HANGAT

Pernikahannya dengan Laras yang dulu terasa seperti surga,
kini berubah menjadi ruang penuh pertengkaran.

“Kenapa kamu pulang malam lagi?” bentak Laras suatu malam.
“Kalau memang masih mikirin Aisyah, bilang saja!”

Arman terdiam.

Ia sendiri tak tahu sejak kapan nama itu kembali memenuhi pikirannya.

Padahal dulu…
ia yang memilih pergi.

WANITA BARU, MASALAH BARU

Laras bukan wanita yang sabar.

Ia terbiasa hidup mewah.
Terbiasa dimanja.
Dan terbiasa mendapatkan apa yang ia mau.

Sedikit saja Arman terlambat memberi uang belanja,
Laras langsung mengomel.

“Kamu ini direktur, Man!
Masa uang segini saja dihitung?”

Arman menghela napas panjang.

Di saat seperti ini…
bayangan Aisyah muncul.

Aisyah yang tak pernah menuntut.
Tak pernah membandingkan.
Tak pernah mengeluh.

Hatinya terasa kosong.

BISNIS YANG MULAI GOYAH

Masalah Arman tak berhenti di rumah.

Di kantor, keputusannya mulai ceroboh.

Ia sering melamun.
Salah mengambil keputusan.

Beberapa klien besar mundur.

Saham perusahaan menurun perlahan.

Direksi mulai mempertanyakan kepemimpinannya.

Untuk pertama kalinya dalam hidup…
Arman merasa tak berdaya.

SEMENTARA ITU… AISYAH MELAJU

Di sisi lain kota,
Aisyah justru semakin bersinar.

Pesanan gamisnya melonjak.
Ia merekrut dua penjahit tambahan.

Nama brand kecilnya mulai dikenal.

Ia belajar marketing.
Belajar keuangan.
Belajar memimpin.

Setiap kesuksesan kecil…
ia sujud syukur.

“Aku tak ingin sukses untuk membalas dendam,” doanya.
“Aku ingin sukses agar hidupku bermakna.”

Dan Tuhan…
membukakan jalan.

PERTEMUAN KEDUA YANG MENOHOK

Suatu sore, Arman menghadiri acara bisnis.

Tanpa ia duga…
Aisyah ada di sana sebagai peserta UMKM unggulan.

Ia tampil anggun.
Berwibawa.
Percaya diri.

Arman terpaku.

“Dia… mantan istrimu?” tanya seorang rekan.

Arman mengangguk pelan.

Dadanya sesak.

PENYESALAN MULAI TUMBUH

Malam itu, Arman pulang dengan kepala penuh.

Laras menyambutnya dengan wajah masam.

“Kita harus beli mobil baru,” kata Laras tanpa basa-basi.
“Yang ini bikin aku malu.”

Arman kehilangan kesabaran.

“Kamu tahu kondisi perusahaan sedang sulit!” bentaknya.

Pertengkaran besar pun terjadi.

Di tengah teriakan itu…
Arman tiba-tiba sadar.

Ia telah menukar ketenangan dengan nafsu.

LARAS MENUNJUKKAN WAJAH ASLINYA

Beberapa minggu kemudian,
Arman menemukan pesan mencurigakan di ponsel Laras.

Pesan dari pria lain.

Dadanya berdegup kencang.

“Jadi selama ini…?” gumamnya.

Saat ia konfrontasi, Laras tak menyesal.

“Kamu pikir cuma kamu yang boleh selingkuh?”
“Dulu kamu tinggalkan istrimu demi aku.
Sekarang giliran aku.”

Kata-kata itu seperti tamparan keras.

Karma…
akhirnya datang.

ARMAN TERPURUK

Malam itu, Arman duduk sendirian di ruang tamu.

Tanpa jas mahal.
Tanpa wibawa.

Hanya seorang pria yang kehilangan segalanya.

Ia teringat Aisyah.

Doanya.
Kesabarannya.
Kesetiaannya.

Untuk pertama kalinya…
air mata Arman jatuh.

“Aisyah… aku salah,” bisiknya.

Namun ia tahu…
waktu tak bisa diputar kembali.

SEMENTARA ITU… AISYAH MELANGKAH LEBIH JAUH

Aisyah kini mendapatkan tawaran besar.

Investor tertarik pada brand-nya.

Ia ragu.

Namun ia ingat masa lalunya.

Jika dulu ia takut,
kini ia berani.

Ia menandatangani kontrak itu…
tanpa tahu bahwa keputusan ini akan mengubah hidupnya selamanya.

Dibuat oleh Plasawebsite.COM