Suami memperkenalkanku di depan semua keluarga dan teman temanya, bahwa aku hanya seorang pembantu. Maaf kalau gayanya norak, maklum dia cuma pembantu. Lalu pamannya berdiri dan bertanya, Jadi, sebenarnya kamu kerja apa? Sepertinya kamu tidak asing bagiku.
Aku hanya senyum lalu menjawab pertanyaannya. Dengar jawaban dariku seketika seluruh ruangan hening. Suamiku tertawa menghina jawabanku.
Tapi saat aku menunjukkan sesuatu, mereka semua benar-benar terdiam. Karena... Sebelum ceritanya dimulai, silakan tulis di kolom komentar dari daerah mana saja teman-teman yang menonton cerita ini. Jangan lupa like dan subscribe agar channel ini bisa semakin berkembang dan bisa mempersembahkan cerita yang lebih menarik lagi.
Suara pintu depan yang terbanting keras membuat keheningan di dalam rumah besar itu pecah seketika. Langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat ke arah kamar utama. Aku yang sedang duduk di tepi ranjang sambil melipat pakaian bersih, hanya diam menunggu.
Pintu kamar terbuka lebar menampakkan sosok suamiku, Niko, yang berdiri dengan napas memburu dan wajah penuh kekesalan. Dia melonggarkan dasinya dengan kasar dan melemparkan tas kerjanya ke sofa di sudut kamar tanpa menoleh padaku. Sudah terbiasa bagiku melihat sikapnya yang seperti ini setiap kali pulang kerja.
Sejak ia mendapatkan posisi manajer di Nusantara Group, sikapnya berubah drastis menjadi sangat arogan dan merasa dirinya adalah pusat dunia. Niko berjalan menuju lemari pakaian dan membukanya dengan kasar. Dia mengobrak abrik isi lemari seolah sedang mencari sesuatu yang sangat penting namun tak kunjung ditemukannya.
Mulutnya terus menggumamkan kata-kata kasar tentang betapa berantakannya rumah ini, padahal aku selalu memastikan semuanya rapi. Aku beranjak dari kasur dan mendekatinya dengan langkah pelan. Aku bertanya dengan suara lembut apa yang sedang dicarinya agar aku bisa membantu.
Namun, Niko justru menepis tanganku yang hendak menyentuh bahunya. Dia menatapku dengan sorot mata tajam yang penuh dengan rasa jijik seolah aku adalah kotoran yang menempel di sepatunya. Dia akhirnya menarik sebuah gantungan baju dari tumpukan paling belakang.
Itu adalah sebuah gamis lama berbahan katun biasa yang sudah sering aku pakai bertahun-tahun lalu. Kainnya sudah tidak kaku lagi dan terlihat sedikit kusam karena termakan usia dan sering dicuci. Tanpa peringatan, Niko melemparkan baju itu tepat ke arah wajahku.
Kain itu menutupi pandanganku sesaat sebelum jatuh ke lantai di kakiku. Aku terdiam menatap baju itu, lalu menatap wajah suamiku yang kini berkacak pinggang dengan dagut rangka tinggi. Niko berkata dengan nada memerintah bahwa malam ini ada acara besar yang wajib dihadiri oleh seluruh jajaran manajemen perusahaan.
Itu adalah pesta ulang tahun perusahaan Nusantara Group yang sangat bergensi. Peraturan perusahaan mewajibkan setiap pegawai membawa pasangannya masing-masing. Jika bukan karena peraturan itu, Niko menegaskan bahwa dia tidak akan sudi membawaku.
Dia berkata bahwa dia lebih suka pergi sendiri daripada harus terlihat bersanding dengan wanita yang menurutnya tidak punya kelas sepertiku. Kata-katanya begitu tajam menusuk hati, namun aku sudah melatih diriku untuk tidak memperlihatkan rasa sakit itu dihadapannya. Dia menunjuk gamis lusu di lantai itu dan menyuruhku memakainya.
Niko melarang keras aku berdandan berlebihan atau memakai pakaian bagus. Menurutnya, aku hanya akan mempermalukannya jika mencoba tampil cantik. Dia bilang aku tidak pantas bersaing dengan istri-istri pejabat perusahaan lain yang glamor dan elegan.
Baginya, aku hanyalah istri rumahan yang tugasnya hanya di dapur dan kasur, jadi aku harus tampil sesuai dengan kodratku di matanya, yaitu rendahan dan tidak menarik perhatian. Dia tidak ingin ada orang yang berpikir aku menghabiskan uangnya untuk perawatan diri. Aku memungut gamis itu dengan tenang.
Dalam hati aku tersenyum miris. Niko tidak tahu bahwa pakaian yang dia sebut lusuh dan tidak berkelas itu sebenarnya aku beli di pasar tradisional dengan uang sisa belanja yang dia berikan dengan sangat pelit. Selama ini, dia tidak pernah memberiku uang lebih untuk membeli pakaian layak.
Namun dia selalu menuntutku untuk tidak memalukan. Kontradiksi yang ada di kepalanya sungguh luar biasa. Aku menyanggupi perintahnya tanpa bantahan.
Aku berkata akan segera bersiap dan mengenakan apa yang dia minta. Niko mendengus puas karena merasa berhasil menekan egoku. Dia kemudian berbalik menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, meninggalkan aku sendirian dengan gamis itu.
Saat suara air keran terdengar dari kamar mandi, aku berjalan menuju meja rias. Aku menatap wajahku dicermin. Wajah tanpa riasan tebal, namun bersih dan terawat.
Niko terlalu buta untuk menyadari bahwa kulitku yang sehat ini adalah hasil perawatan rutin yang aku lakukan di Amdiam dengan produk kualitas terbaik yang aku miliki sendiri. Dia pikir aku hanya memakai bedak murah. Aku membuka laci kecil di bawah meja rias yang memiliki kunci khusus.
Dari sana, aku mengambil sebuah dompet kecil yang tersembunyi di bagian paling dalam. Aku mengeluarkan sebuah kartu akses tipis berwarna hitam pekat. Kartu itu terlihat sangat sederhana, namun memiliki berat yang berbeda dari kartu biasa.
Di sudut kanannya terdapat logo Garuda kecil berwarna emas murni. Tidak ada nama yang tertulis di sana, hanya kode batang dan chip emas. Ini adalah kartu akses utama pemilik gedung Nusantara Group.
Kartu yang bisa membuka pintu mana saja, mulai dari pintu masuk karyawan, lift pribadi, hingga berangkas di ruang CEO. Kartu ini adalah bukti kekuasaan mutlak yang selama ini aku sembunyikan dari siapapun. Termasuk Niko.
Aku menyelipkan kartu itu ke dalam saku tersembunyi yang ada di balik jahitan gamis lusuh tersebut. Saku itu aku buat sendiri untuk menyimpan benda-benda penting saat aku harus menyamar menjadi wanita biasa. Setelah memastikan kartu itu aman, aku mulai mengenakan gamis tersebut.
Ukurannya masih pas di tubuhku, meski potongannya sudah ketinggalan zaman. Aku mengambil hijab instan sederhana yang biasa dipakai ibu-ibu ke pasar. Aku memakainya tanpa jarum pentul tambahan, membiarkannya jatuh menutupi dada dengan gaya yang sangat konvensional dan jauh dari kata modis.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan masuk dari Pak Hadi, kepala keamanan gedung sekaligus orang kepercayaan mendiang ayahku. Pesan itu memberitahukan bahwa seluruh persiapan sudah matang.
Para direksi sudah berkumpul di ruangan khusus dan menunggu kedatanganku. Mereka sudah memegang semua bukti kecurangan yang dilakukan oleh Niko selama menjabat sebagai manajer. Data penggelapan dana, manipulasi laporan, hingga transaksi pembelian obat terlarang sudah tersimpan rapi.
Pak Hadi bertanya apakah aku ingin mereka bertindak sekarang atau menunggu aba-aba dariku. Aku mengetik balasan singkat dengan jari yang lincah. Aku meminta Pak Hadi untuk menahan semua tindakan sampai aku memberikan kode langsung di lokasi.
Aku ingin melihat sejauh mana Niko akan bertingkah malam ini. Aku ingin melihat wajahnya saat dia menyadari bahwa istri yang selama ini dia injak-injak adalah orang yang memegang nasib hidup dan matinya. Setelah pesan terkirim, aku menghapus riwayat percakapan itu dan meletakkan ponselku ke dalam tas tangan tua yang kulitnya sudah mulai mengelupas di beberapa bagian.
Tas itu semakin melengkapi penampilanku yang menyedihkan malam ini. Niko keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Dia menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan menilai.
Bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang meremehkan. Dia berkata bahwa penampilanku sudah cukup pas untuk seorang pembantu yang diajak majikannya jalan-jalan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dia merasa bangga bisa membuatku terlihat seperti ini. Dia mengingatkan lagi agar aku tidak banyak bicara di pesta nanti. Dia menyuruhku untuk duduk diam di pojok dan tidak usah sokenal dengan siapapun.
Aku hanya mengangguk patuh sambil menundukan kepala, memainkan peran sebagai istri yang takut pada suami. Niko kemudian sibuk memilih setelan jazz terbaiknya. Dia memakai jam tangan mahal yang dia beli bulan lalu dengan alasan bonus kantor, padahal aku tahu itu uang hasil markup anggaran proyek.
Dia menyisir rambutnya dengan rapi, menyemprotkan parfum mahal ke seluruh tubuhnya hingga wanginya menyengat memenuhi ruangan. Kontras sekali penampilan kami berdua. Dia seperti pangeran yang hendak menjemput putri raja, sedangkan aku seperti upik abu yang hendak pergi ke pasar.
Setelah selesai berdandan, Niko mengambil kunci mobil dari atas meja. Dia tidak menungguku atau membukakan pintu untukku. Dia berjalan keluar kamar dengan langkah lebar, membiarkan aku tertatih mengikuti di belakangnya.
Di ruang tamu, dia sempat berhenti sebentar di depan cermin besar untuk mematut diri sekali lagi. Dia tersenyum pada bayangannya sendiri, memuji ketampanannya. Aku berdiri diam di belakangnya, menatap punggung pria yang sudah lima tahun ini menjadi suamiku.
Dulu aku menikahinya karena melihat potensi dan kebaikan hatinya, tapi harta dan jabatan ternyata mampu mengubah seseorang menjadi monster dalam waktu singkat. Niko berteriak agar aku cepat masuk ke mobil karena dia tidak mau terlambat. Dia bilang ada seseorang penting yang harus kami jemput di jalan.
Jantungku berdesir pelan mendengar itu. Aku sudah bisa menebak siapa orang penting yang dimaksud. Namun aku tetap diam dan melangkah keluar rumah.
Malam ini udara terasa dingin, namun hatiku terasa jauh lebih dingin. Aku menatap langit malam yang gelap tanpa bintang. Sebentar lagi, di gedung pencakar langit itu, aku akan membuka topengku.
Aku akan menunjukkan pada Niko siapa sebenarnya yang memiliki kuasa. Penyamaran ini akan berakhir malam ini juga. Dengan langkah mantap, aku menyusul Niko menuju mobil sedan kantor yang terparkir di halaman.
Mobil sedan hitam mengkilap itu melaju membelah jalanan kota yang padat. Niko menyetir dengan satu tangan memegang kemudi sementara tangan lainnya sibuk dengan ponselnya. Dia tampak bertukar pesan dengan seseorang sambil tersenyum-senyum sendiri.
Aku duduk di kursi samping pengemudi, menatap jalanan lewat jendela kaca. Suasana di dalam mobil terasa kaku. Musik radio diputar dengan volume pelan, namun tidak mampu mencairkan ketegangan yang aku rasakan.
Niko sama sekali tidak mengajakku bicara sejak kami meninggalkan rumah. Dia seolah menganggap aku tidak ada di sebelahnya. Setelah sekitar 15 menit perjalanan, Niko membelokkan mobil ke sebuah kompleks apartemen mewah.
Dia berhenti di depan lobby dan menekan klakson dua kali. Tidak lama kemudian, seorang wanita muda keluar dari pintu kaca lobby. Wanita itu mengenakan gaun malam yang sangat indah, berkilauan tertimpa cahaya lampu jalan.
Rambutnya ditata rapi dengan gaya modern, wajahnya dipoles riasan sempurna yang menonjolkan kecantikannya. Itu Inara, wanita yang Niko perkenalkan padaku sebagai sekretaris barunya beberapa bulan lalu. Niko menoleh padaku dengan wajah datar.
Dia memerintahkan aku untuk pindah ke kursi belakang. Alasannya, Inara akan mabuk darat jika duduk di belakang, jadi dia harus duduk di depan. Selain itu, Niko beralasan bahwa mereka perlu membahas masalah pekerjaan selama perjalanan menuju lokasi pesta, jadi akan lebih mudah jika mereka duduk bersebelahan.
Aku menatap Niko sejenak, mencari kejujuran di matanya, namun yang kutemukan hanyalah ketidakpedulian. Tanpa membantah, aku membuka pintu mobil dan keluar. Udara malam menerpa wajahku saat aku berdiri di aspal.
Inara berjalan mendekat dengan senyum yang dibuat-buat. Dia menyapaku dengan sebutan, Ibu Yumna, namun nada bicaranya terdengar mengejek. Matanya meneliti pakaianku dari atas ke bawah, lalu dia menutup mulutnya seolah menahan tawa.
Dia berkata bahwa gamisku sangat unik dan antik. Niko yang melihat interaksi itu dari dalam mobil, membentakku agar cepat pindah, karena mereka sedang terburu-buru. Aku membuka pintu belakang dan masuk, duduk di jog kulit yang dingin.
Inara masuk ke kursi depan, tempat yang seharusnya menjadi hak istri sah. Dia menutup pintu dan langsung memperbaiki posisi duduknya agar nyaman. Aroma parfum Inara yang manis dan menyengat langsung memenuhi kabin mobil, bercampur dengan aroma parfum Niko.
Mereka tertawa kecil saat Inara memuji penampilan Niko yang gagah malam ini. Niko membalas pujian itu dengan mengatakan bahwa Inara terlihat seperti bidadari. Aku yang duduk di belakang hanya bisa melihat sandaran kepala kursi mereka.
Rasanya seperti aku adalah supir taksi atau asisten yang tidak terlihat. Sementara mereka adalah pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara. Sepanjang perjalanan menuju hotel tempat pesta diadakan, Niko dan Inara asyik mengobrol.
Mereka membicarakan tentang siapa saja direktur yang akan hadir, tentang peluang promosi Niko, dan tentang betapa membosankannya acara formal seperti ini. Sesekali tangan Niko terlihat menyentuh dengan Inara saat tertawa, sebuah gestur yang terlalu akrab untuk sekadar atasan dan bawahan. Mereka benar-benar menganggap kupatung yang tidak punya perasaan.
Inara tiba-tiba bertanya tentang pemilik perusahaan Nusantara Group. Dia mendengar rumor bahwa pemilik aslinya adalah seseorang yang sangat misterius dan jarang muncul di publik. Niko dengan sok tahu menjawab bahwa pemiliknya kemungkinan besar adalah orang tua banka yang tinggal di luar negeri dan tidak peduli pada operasional perusahaan.
Niko bahkan berani mengatakan bahwa jika dia menjadi direktur utama nanti, dia akan mengubah banyak kebijakan kuno perusahaan. Aku menahan diri untuk tidak tertawa mendengar kebodohan suamiku. Orang tua banka yang dia bicarakan sedang duduk tepat di belakang punggungnya, mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Mobil akhirnya memasuki area lobby Hotel Bintang 5 yang menjadi lokasi acara. Kemewahan langsung terasa dari arsitektur pilar-pilar raksasa dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit lobby luar. Petugas keamanan dan valet berseragam rapi bersiaga di setiap sudut.
Mobil-mobil mewah berderet menurunkan tamu-tamu penting. Niko menghentikan mobil tepat di depan pintu utama. Dia mematikan mesin dan merapikan jasnya lagi.
Seorang petugas valet bergegas mendekat. Namun, alih-alih membuka pintu pengemudi untuk Niko atau pintu depan untuk Inara, petugas itu justru berjalan cepat menuju pintu belakang tempat aku duduk. Petugas itu membungkuk hormat dengan sangat dalam sebelum membuka pintu mobilku.
Perlakuan istimewa ini membuat Niko yang sedang melepas sabuk pengaman terheran-heran. Dia menata petugas itu dengan bingung dari kaca spion tengah. Aku melangkah keluar dari mobil.
Petugas valet itu, yang ternyata mengenali wajahku meski aku berpakaian sangat sederhana, menundukkan kepalanya dan menyapaku dengan suara sangat pelanamun penuh hormat, mengucapkan selamat datang. Aku hanya menganggu kecil dan meletakkan jari telunjuk di bibirku, memberinya isyarat untuk diam dan tidak membongkar identitasku. Petugas itu mengerti seketika dan langsung menegakkan tubuhnya, kembali memasang wajah profesional.
Niko dan Inara turun dari mobil. Niko langsung menghardik petugas itu. Dia bertanya dengan nada tinggi kenapa petugas itu malah melayani penumpang belakang terlebih dahulu, padahal dia adalah bos yang menyetir mobil ini.
Niko merasa tersinggung karena merasa diabaikan. Petugas itu dengan cerdik menjawab bahwa sob hotel mengharuskan mereka membuka pintu belakang terlebih dahulu untuk keamanan. Niko mendengus kesal, tidak puas dengan jawaban itu namun tidak mau memperpanjang masalah karena banyak mata memandang.
Niko melemparkan kunci mobil ke arah petugas Valet dengan kasar. Dia kemudian berjalan memutar dan langsung menghampiri Inara, menawarkan lengannya untuk digandeng. Inara dengan manja melingkarkan tangannya di lengan Niko.
Mereka berdiri bersisian, tampak serasi dengan pakaian mereka yang gemerlap. Sementara aku berdiri sendiri di sisi lain mobil, memegang tas tanganku yang mengelupas. Ingat posisimu, bisik Niko padaku saat aku mendekat.
Kamu jalan di belakang kami, jangan jalan sejajar. Aku tidak mau orang-orang bingung siapa pasanganku yang sebenarnya. Inara lebih pantas dilihat sebagai pendampingku malam ini daripada kamu dengan baju gembel itu.
Kata-kata itu begitu menyakitkan, namun sekaligus membulatkan tekadku. Aku mundur dua langkah, membiarkan mereka berjalan lebih dulu. Mereka melangkah masuk ke dalam lobby hotel yang megah, disambut oleh penerima tamu yang ramah.
Aku berjalan mengikuti mereka dari jarak beberapa meter, persis seperti seorang pembantu yang mengikuti majikannya. Orang-orang di lobby menatap Niko dan Inara dengan kagum, lalu tatapan mereka beralih padaku dengan pandangan bertanya-tanya dan kasihan. Kami menuju ballroom utama.
Suara musik orkestra sayup-sayup terdengar semakin jelas. Di pintu masuk ballroom, petugas pemeriksa undangan meminta kartu undangan. Niko menunjukkan undangannya dengan bangga.
Petugas itu mempersilahkan Niko dan Inara masuk, lalu menatapku ragu. Niko menoleh dan berkata pada petugas itu bahwa aku adalah rombongannya, asisten rumah tangga yang dia bawa untuk membantu membawakan barang-barang Inara jika diperlukan. Petugas itu mengerngitkan dahi, merasa aneh ada asisten rumah tangga diajak ke pesta sekelas ini, namun dia tetap mengizinkanku masuk.
Di dalam ballroom, kemewahan benar-benar terpancar. Lampu gantung kristal raksasa, dekorasi bunga segar di setiap sudut, dan meja-meja bundar yang ditata apik. Para tamu undangan berdiri berkelompok, memegang gelas berisi jus buah segar dan air mineral, berbincang dengan tawa sopan.
Niko langsung menarik Inara menuju kerumunan teman-teman kantornya. Dia ingin memamerkan, sekretaris cantiknya, itu. Aku berjalan pelan menuju sudut ruangan yang agak gelap, berdiri di dekat pilar besar.
Dari sini aku bisa melihat seluruh ruangan. Aku bisa melihat jajaran direksi yang duduk di meja VIP di dekat panggung. Dan aku bisa melihat Tuan Bagaskara, Paman Niko, yang sedang berbincang serius dengan beberapa investor.
Panggung sandiwara sudah siap. Aktor utamanya sudah masuk ke dalam jebakan. Niko tertawa lepas di tengah teman-temannya, sesekali melirik arahku dengan tatapan mengejek untuk memastikan aku tetap di tempatku.
Dia tidak tahu bahwa di balik pilar ini, aku sedang mengamati setiap gerak geriknya, menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan panggung kebanggaannya, itu. Aku merabasku gamisku, memastikan kartu akses itu masih ada di sana. Sebentar lagi, Niko, sebentar lagi, suasana di dalam ballroom hotel semakin malam semakin ramai.
Udara dingin dari pendingin ruangan bercampur dengan aroma berbagai macam parfum mahal yang dipakai oleh para tamu undangan. Musik klasik yang dimainkan secara langsung oleh orkestra kecil di sudut panggung mengalun lembut, menciptakan latar suara yang elegan namun terasa mencekam bagiku. Aku masih berdiri diam di sudut ruangan, tepat di samping sebuah pilar besar yang setengahnya tertutup tirai bluedroo.
Posisi ini memberiku pandangan luas ke seluruh penjuru ruangan tanpa menarik perhatian orang lain. Aku melihat para pelayan berseragam rapi berlalu lalang membawa nampan berisi gelas-gelas kristal tinggi. Isinya bukan minuman keras, melainkan jus buah segar beraneka warna dan air mineral sparkling dengan irisan lemon, sesuai dengan kebijakan perusahaan Nusantara Group yang menjunjung tinggi etika dan kesehatan.
Mataku tak lepas dari sosok Niko dan Inara yang berada di tengah ruangan. Mereka terlihat sangat menikmati perhatian yang didapat. Niko tertawa lebar, sesekali menepuk bahurekan kerjanya dengan gaya sok akrab yang berlebihan.
Inara berdiri di sisinya, menempel erat seolah takut kehilangan pegangan. Dia tersenyum manis pada setiap orang yang menyapa, memamerkan tas tangan bermerek yang aku tahu persis harganya setara dengan gaji Niko selama tiga bulan. Tas itu dibeli Niko bulan lalu dengan alasan uang itu adalah bonus proyek, padahal aku tahu itu adalah uang yang seharusnya dialokasikan untuk perbaikan fasilitas kantor cabang.
Hatiku berdesir menahan amarah, bukan karena cemburu, melainkan karena muak melihat kemunafikan yang terpampang jelas di depan mata. Beberapa teman dekat Niko mulai berdatangan menghampiri mereka. Aku mengenali wajah-wajah itu.
Mereka adalah rekan-rekan satu divisi Niko yang sering datang ke rumah kami untuk makan malam. Dulu, aku yang memasakkan hidangan untuk mereka, melayani mereka dengan ramah selayaknya tuan rumah yang baik. Namun malam ini, ingatan mereka sepertinya mendadah hilang.
Mereka menyalami Niko dan menatap Inara dengan pandangan kagum. Salah satu dari mereka, seorang pria bertubuh gempal bernama Rudy, menyenggol dengan Niko sambil mengedipkan mata menggoda. Dia memuji Niko karena berhasil menggandeng wanita secantik Inara.
Niko membusungkan dadahnya bangga, menikmati pujian itu seolah Inara adalah trofi kemenangan. Tiba-tiba, pandangan Rudy bergeser. Matanya menangkap sosokku yang berdiri mematung di dekat pilar.
Dia menyipitkan mata, berusaha mengenali wajah dibalik hijab sederhana dan gamis lusuh yang aku kenakan. Perlahan, teman-teman Niko yang lain juga menoleh ke arahku. Bisik-bisik mulai terdengar di antara mereka.
Rudy menyenggol Niko lagi, kali ini dengan ekspresi bingung. Dia bertanya setengah berbisik namun suaranya cukup keras hingga terdengar olehku, menanyakan siapa wanita berhijab lusuh yang sedari tadi terus menatap ke arah mereka. Pertanyaan itu membuat lingkaran kecil pertemanan mereka hening sejenak.
Inara menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawa kecil yang meremehkan. Niko menoleh ke arahku dengan wajah yang berubah drastis. Senyum bangganya lenyap, digantikan oleh ekspresi jijik dan terganggu.
Dia sadar bahwa keberadaanku di sana merusak pemandangan sempurna yang sedang dia bangun. Dengan langkah santai namun penuh arogansi, Niko menjawab pertanyaan Rudy dengan suara lantang yang sengaja dia keraskan agar orang-orang di sekitarnya bisa mendengar. Dia tertawa renyah, merangkul pinggang Inara semakin erat, lalu menunjuk lurus ke arah wajahku dengan jari telunjuknya.
Dia berkata dengan nada santai bahwa teman-temannya tidak perlu bingung. Oh, wanita itu, maaf ya kalau gayanya norak dan bikin sakit mata kalian, ucap Niko sambil terkekeh. Maklum, dia cuma pembantu di rumahku.
Tadi aku terpaksa bawa dia karena Inara butuh asisten buat bawain tas dan barang-barang pribadinya kalau lelah. Tahu sendirikan, orang kampung kalau diajak ke hotel mewah pasti bingung, makanya dia diam saja di pojok seperti patung. Gelak tawa seketika pecah di antara teman-teman Niko.
Mereka tertawa terbahak-bahak seolah penghinaan itu adalah lelucon paling lucu malam ini. Rudy bahkan sampai memegangi perutnya saking gelinya. Dia menimpali dengan berkata pantas saja pakaianku terlihat seperti kain lap dapur.
Inara ikut tertawa, suara tawanya terdengar melengking dan dibuat-buat. Dia menambahkan bumbu penghinaan dengan berkata bahwa dia sebenarnya kasihan padaku, makanya dia membujuk Niko untuk mengajaku agar aku bisa melihat dunia luar sesekali. Mereka semua mengangguk-angguk setuju, memandangku dengan tatapan iba yang palsu dan penuh penghinaan.
Aku merasakan darahku berdesir hebat. Jantungku berpacu cepat, bukan karena malu, tapi karena menahan keinginan untuk melangkah maju dan menampar mulut mereka satu persatu saat itu juga. Namun, aku menahan diri.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kuat, membiarkan rasa sakit fisik itu mengalihkan rasa sakit di hatiku. Aku tetap berdiri tegak, tidak menunduk, tidak menangis, dan tidak lari. Aku menatap mata Niko lurus-lurus dari kejauhan.
Tatapan yang kosong namun tajam. Niko yang melihat reaksiku yang tenang justru semakin merasa di atas angin. Dia pikir aku terlalu bodoh untuk mengerti bahwa aku sedang dihina atau terlalu takut untuk membela diri.
Beberapa tamu lain yang berada di dekat situ mulai menoleh karena mendengar keributan tawa mereka. Beberapa dari mereka menatapku dengan pandangan simpati, namun tak ada yang berani mendekat atau membela. Di mata mereka, aku hanyalah orang kecil yang salah tempat.
Niko kembali melanjutkan bualannya. Dia bercerita bahwa di rumah, kerjaku sangat lamban dan sering membuat kesalahan, tapi dia masih mempertahankanku karena kasihan. Kebohongan demi kebohongan meluncur mulus dari lidahnya.
Dia menjadikan istrinya sendiri sebagai bahan lelucon demi menaikkan status sosialnya di depan teman-teman dan selingkuhannya. Di saat tawa mereka masih menggema, tiba-tiba suasana di pintu utama ballroom berubah. Musik orkestra mendadak berhenti.
Lampu sorot utama yang tadinya menyapu seluruh ruangan kini terfokus ke arah pintu masuk yang besar dan megah. Pintu ganda berlapis emas itu terbuka lebar secara perlahan. Suara tawa di kelompok Niko seketika mati.
Semua kepala menoleh ke arah pintu. Keheningan menyergap seluruh ruangan, menggantikan hirup piku percakapan yang tadi memenuhi udara. Aura kewibawaan yang sangat kuat rasa menyebar masuk bahkan sebelum sosok itu terlihat sepenuhnya.
Seorang pria parubaya dengan setelan jas hitam formal melangkah masuk. Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, namun tubuhnya masih tegap dan langkahnya mantap penuh percaya diri. Di belakangnya, dua orang asisten berjalan mengikuti dengan sigap.
Itu adalah Tuan Bagaskara. Paman Niko dari pihak ayahnya, sekaligus salah satu komisaris senior yang paling disegani di Nusantara Group. Beliau jarang sekali muncul di acara-acara publik kecuali acara tersebut sangat penting.
Kehadirannya malam ini menandakan bahwa ada sesuatu yang besar yang akan terjadi. Tuan Bagaskara dikenal sebagai sosok yang tegas, tanpa kompromi, dan memiliki mata elang yang bisa mendeteksi kebohongan dari jarak jauh. Melihat pamannya datang, wajah Niko langsung berubah cerah.
Dia melihat ini sebagai kesempatan emas untuk memamerkan posisinya yang baru dan memperkenalkan Inara pada keluarga besar perusahaan. Niko segera merapikan dasinya, menyisir rambutnya dengan jari, dan berbisik pada Inara untuk bersiap menyapa. Dia lupa bahwa baru saja dia merendahkan istrinya sendiri.
Dia melangkah maju dengan percaya diri yang meluap-luap, meninggalkan teman-temannya di belakang, bersiap menyambut Sang Paman dengan senyum terlebar yang dia miliki. Aku hanya menghela napas panjang, melihat kebodohan yang akan segera terjadi. Niko berjalan cepat membelah kerumunan tamu untuk menyongsong Tuan Bagaskara.
Dia berusaha terlihat menonjol di antara ratusan tamu lainnya. Saat jarak mereka sudah cukup dekat, Niko langsung membungkuk sedikit, memberikan salam hormat yang berlebihan. Dia menyapa pamannya dengan suara lantang dan penuh semangat, berharap semua orang melihat kedekatan mereka.
Dia memperkenalkan dirinya seolah Tuan Bagaskara mungkin lupa padanya, lalu dengan cepat menarik tangan Inara agar mendekat. Niko memperkenalkan Inara sebagai rekan kerja terbaiknya yang sangat membantu performa divisi, sebuah kode halus untuk menunjukkan wanita pilihannya. Namun, reaksi Tuan Bagaskara sungguh di luar dugaan Niko.
Pria tua itu hanya mengangguk sekilas, sangat singkat dan dingin, tanpa menghentikan langkah kakinya. Matanya sama sekali tidak melirik arah Inara yang sudah memasang senyum paling manis dan menjulurkan tangan untuk bersalaman. Tangan Inara menggantung di udara, diabaikan begitu saja, membuatnya menarik kembali tangannya dengan canggung dan wajah memerah malu.
Tuan Bagaskara seolah tidak melihat keberadaan Niko dan Inara. Pandangannya lurus ke depan, terkunci pada satu titik di sudut ruangan yang gelap. Niko yang bingung mencoba memanggil pamannya lagi, berusaha mengalihkan perhatian beliau kembali padanya.
Dia bertanya tentang kabar kesehatan Tuan Bagaskara dan Basabasi lainnya. Tapi Tuan Bagaskara terus berjalan, melewati Niko begitu saja seolah Niko hanyalah tiang penyangga gedung yang tidak penting. Langkah kaki Tuan Bagaskara tegas dan terarah menuju ke tempat di mana aku berdiri.
Kerumunan tamu undangan secara otomatis membelah diri, memberikan jalan bagi sang komisaris utama. Suasana menjadi tegang. Semua orang bertanya-tanya ke mana arah tujuan orang nomor satu di jajaran komisaris ini.
Jantungku berdegup lebih kencang saat melihat sosok kuibawa itu semakin dekat. Aku tetap berdiri di posisiku, tidak bergerak satu inci pun. Aku menegakkan punggungku, mengangkat daguku sedikit, namun tetap mempertahankan ekspresi wajah yang tenang dan datah.
Tuan Bagaskara akhirnya berhenti tepat dua meter di hadapanku. Dia berdiri diam, menatapku lekat-lekat dari balik kacamata bacanya. Matanya menyipit, meneliti wajahku, mataku, dan caraku berdiri.
Dia tidak melihat pakaian lusuhku, dia melihat sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam. Niko yang panik melihat pamannya menghampiri, pembantu, nyah segera berlari menyusul. Dia takut aku akan melakukan sesuatu yang memalukan atau bicara sembarangan.
Niko menyelinap di antara Tuan Bagaskara dan aku, mencoba menjadi penghalang. Dia tertawa gugup dan berkata pada pamannya bahwa beliau salah orang. Niko menjelaskan lagi dengan cepat bahwa wanita di depannya ini hanyalah pembantu yang dia bawa dari rumah, orang kampung yang tidak mengerti tatak rama, jadi sebaiknya Tuan Bagaskara tidak perlu membuang waktu untuk bicara dengannya.
Tuan Bagaskara mengangkat tangannya, memberi isyarat agar Niko diam. Gerakan tangan itu begitu otoriter, hingga membuat mulut Niko terkunci rapat seketika. Tuan Bagaskara menggeser tubuhnya sedikit agar bisa melihatku lagi tanpa terhalang tubuh Niko.
Suasana di sekitar kami menjadi hening total. Musik orkestra bahkan terasa mengecil volumenya, seolah para pemusik pun ikut penasaran dengan drama yang sedang terjadi. Semua mata tertuju pada kami bertiga.
Jadi, suara Bariton Tuan Bagaskara terdengar berat dan bergema di keheningan itu. Sebenarnya kamu kerja apa? Nah, wajahmu, sepertinya kamu tidak asing bagiku. Sorot matamu mengingatkanku pada seseorang yang sangat aku hormati dulu.
Seseorang yang mendirikan fondasi gedung ini dengan keringat dan darahnya. Pertanyaan itu menggantung di udara. Niko membelalakan matanya, terkejut mendengar pamannya bicara sehalus itu pada wanita yang dia sebut pembantu.
Inara di belakang Niko tampak gelisah, mulai merasakan firasat buruk. Keringat dingin mulai muncul di pelipis Niko. Dia mencoba memotong lagi, berkata bahwa pamannya pasti salah lihat karena mataku biasa saja, mata orang susah yang kurang tidur.
Namun Tuan Bagaskara tidak menggubris gangguan Niko, beliau tetap menatapku menunggu jawaban. Aku menarik nafas perlahan, mengumpulkan ketenangan. Perlahan, aku mengangkat wajahku sepenuhnya, menatap langsung ke dalam mata tua Tuan Bagaskara tanpa rasa takut sedikitpun.
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum penuh arti yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu. Saya bekerja bersih-bersih. Tuan Bagaskara jawabku dengan suara yang lembut namun tegas.
Suaraku tidak bergetar sedikitpun, terdengar jernih di tengah keheningan ballroom. Niko yang mendengar jawabanku langsung meledak tawanya. Dia merasa lega karena jawabanku sesuai dengan skenario, pembantu, yang dia karang.
Dia menepuk paha sambil tertawa terbahak-bahak, memecah ketegangan yang tadi sempat terbangun. Tuhkan, Paman, benar apa kata saya? Seru Niko sambil menunjuk-nunjuk wajahku lagi. Dia sendiri yang bilang, bersih-bersih.
Dia itu cuma tukang sapu, tukang pel, tukang cuci piring. Pembantu, Paman terlalu berlebihan memikirkan dia. Sudahlah, ayo kita ke meja VIP.
Paman, tidak pantas seorang komisaris bicara dengan tukang bersih-bersih rendahan begini. Tawa Niko menggemas sendirian. Tidak ada orang lain yang ikut tertawa kali ini.
Para tamu undangan lain justru merasa ada yang aneh. Mereka melihat kontras yang tajam antara sikap Niko yang kasar dan sikapku yang sangat tenang dan berwibawa meski mengaku sebagai tukang bersih-bersih. Tuan Bagaskara juga tidak tertawa.
Wajahnya justru semakin serius. Dia menangkap nada bicara ganda dalam kalimatku. Dia adalah orang tua yang bijak dan berpengalaman.
Dia tahu bahwa kata, bersih-bersih, bisa memiliki banyak makna. Aku tidak membiarkan Niko menikmati tawanya terlalu lama. Sebelum dia sempat menarik tangan Pamannya untuk pergi, aku kembali membuka mulut.
Kali ini, aku melangkah satu langkah ke depan, mempersempit jarak antara aku dan mereka. Aura kepatuhan yang tadi aku pasang, perlahan aku lepaskan. Ya, suami saya benar.
Kataku lagi, kali ini dengan intonasi yang lebih dingin dan menekan. Mataku beralih menatap Niko yang masih menyeringai. Saya spesialis bersih-bersih.
Niko mendengus meremehkan. Iya, iya, kita semua tahu kamu jago ngepel. Sudah, diam kamu.
Bukan mengepel lantai, Niko potongku cepat dan tajam, membuat Niko terdiam kaget. Tapi membersihkan perusahaan dari tikus-tikus berdasi, benalu yang menggerogoti aset, koruptor yang memanipulasi laporan keuangan, dan karyawan tidak kompeten yang bisanya cuma bersolek. Kalimat itu meluncur seperti pedang yang ditebas cepat.
Senyum di wajah Niko lenyap seketika, digantikan oleh wajah pucat pasi. Inara mundur selangkah, matanya membulat sempurna. Tuan bagaskara tersentak kecil, sebuah pemahaman tiba-tiba muncul di matanya.
Dia menatapku dengan pandangan baru, pandangan penuh hormat dan keterkejutan. Keheningan di ruangan itu kini berubah menjadi ketegangan yang mencekam. Tidak ada lagi suara denting gelas, tidak ada bisik-bisik.
Semua orang menahan nafas, menyadari bahwa wanita berhijab lusu ini baru saja melemparkan ancaman perang terbuka tepat di muka manajer mereka. Suasana di dalam ruangan pesta itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berat. Kalimat terakhir yang aku ucapkan tentang membersihkan perusahaan dari tikus berdasi dan koruptor masih terngiang-ngiang di telinga setiap orang yang mendengarnya.
Wajah Niko yang tadinya merah padam karena menahan tawa, kini berubah warna menjadi pucat pasi, lalu dengan cepat berubah lagi menjadi merah gelap karena amarah yang memunca. Dia merasa harga dirinya baru saja diinjak-injak di depan pamannya dan ratusan tamu penting lainnya oleh wanita yang selama ini dia anggap tidak berdaya. Urat-urat di leher Niko menonjol keluar, menandakan emosinya sudah tidak bisa dibendung lagi.
Dia mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-bukunya memutih. Inara yang berdiri di samping Niko tampak ketakutan. Dia mundur perlahan menjauh dari Niko, seolah bisa merasakan aura bahaya yang memancar dari tubuh kekasih gelapnya itu.
Senyum manis yang sedari tadi dia pamerkan sudah hilang tanpa bekas. Dia menatapku dengan pandangan bingung bercampur ngeri, mencoba mencerna apa maksud dari perkataanku. Sementara itu, Tuan Bagaskara masih berdiri tegak di posisinya.
Pria tua itu tidak bergerak sedikitpun, namun matanya yang tajam terus menatapku dengan intensitas tinggi. Dia tidak terlihat marah, justru sebaliknya, dia terlihat seperti seseorang yang baru saja menemukan jawaban dari sebuah teka-teki yang rumit. Niko melangkah maju dengan kasar, mengikis jarak di antara kami.
Napasnya terdengar memburu seperti banteng yang siap menyeruduk. Dia menunjuk wajahku tepat di depan hidungku, mengetar karena marah. Dia berteriak lantang, memecah keheningan yang mencekam itu.
Dia membentakku dengan kasar, bertanya siapa aku berani bicara lancang seperti itu. Dia menuduhku sudah gila dan mempermalukannya dengan sengaja. Suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan, membuat beberapa tamu wanita menutup mulut mereka karena kaget.
Niko benar-benar kehilangan kendali dirinya. Topeng pria sukses dan berwibawa yang dia pakai sejak awal pesta kini hancur lebur, memperlihatkan sifat aslinya yang temperamental dan kasar. Aku tidak mundur selangkah pun.
Aku tetap berdiri tenang, menatap mata Niko yang nyalang. Ketenanganku itulah yang membuat Niko semakin gila. Dia merasa diabaikan dan diremehkan.
Dia berharap aku akan menangis atau bersujud minta ampun setelah dia bentak, seperti yang biasa aku lakukan di rumah untuk menghindari pertengkaran. Tapi malam ini berbeda. Aku bukan lagi Yumna, si istri penurut.
Aku adalah Yumna yang siap memberikan hukuman. Melihat aku yang hanya diam dengan tatapan menantang, kesabaran Niko habis. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, bersiap melayangkan tamparan keras ke pipiku.
Orang-orang di sekitar kami terpeki kaget. Beberapa memalingkan wajah, karena tidak tega melihat kekerasan yang akan terjadi. Inara menjerit kecil.
Tuan Bagaskara hendak membuka mulut untuk mencegah, namun dia terlambat. Tangan Niko melayang turun dengan cepat mengarah ke wajahku. Namun, sebelum telapa tangan kasar itu menyentuh kulitku, sebuah tangan lain yang jauh lebih kekar dan kuat muncul dari arah belakang Niko dan mencengkeram pergelangan tangannya di udara.
Gerakan tangan Niko terhentis ketika, tertahan kuat oleh cengkeraman besi itu. Niko terkejut bukan main. Dia menoleh ke belakang dengan mata melotot, siap memaki orang yang berani menghalanginya.
Di belakangnya berdiri Pak Hadi, kepala keamanan gedung yang bertubuh besar dan tegap. Wajah Pak Hadi datar tanpa ekspresi, namun matanya memancarkan sorot tajam yang mengintimidasi. Pak Hadi tidak melepaskan cengkeramannya, justru menekannya lebih kuat hingga Niko meringis kesakitan.
Niko berteriak pada Pak Hadi, bertanya apa yang dia lakukan dan memerintahkannya untuk melepaskan tangan. Niko mengingatkan Pak Hadi bahwa dia adalah manajer di sini dan Pak Hadi hanya bawahan. Pak Hadi tidak menjawab teriakan Niko.
Dia dengan tenang memutar lengan Niko ke arah punggung, memaksanya membungkuk menahan sakit. Gerakan itu sangat cepat dan taktis, menunjukkan kemampuan bela diri profesional. Niko meronta-ronta, berusaha melepaskan diri, tapi tenaga Pak Hadi jauh di atasnya.
Pak Hadi kemudian berbicara dengan suara rendah namun tegas, cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di lingkaran terdekat. Dia berkata bahwa tugasnya adalah mengamankan aset paling berharga perusahaan dan siapapun yang mencoba menyakiti pemilik gedung ini akan berhadapan dengannya. Kalimat Pak Hadi membuat Niko terdiam sesaat disela rintihannya.
Dia bingung dengan kata-kata itu. Pemilik gedung? Siapa yang dimaksud Pak Hadi? Pikiran Niko terlalu kacau untuk menghubungkan titik-titik itu. Dia masih berpikir bahwa dia adalah korban di sini.
Dia berteriak memanggil keamanan lain untuk menangkap Pak Hadi yang dianggapnya memberontak. Namun, tidak ada satupun petugas keamanan lain yang bergerak membantunya. Mereka semua berdiri tegak di pinggir ruangan, memandang lurus ke depan, seolah sudah tahu bahwa Pak Hadi melakukan hal yang benar.
Tuan Bagaskara akhirnya melangkah maju. Dia menatap Niko yang sedang dikunci gerakannya oleh Pak Hadi dengan pandangan kecewa yang mendalam. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
Tuan Bagaskara berkata bahwa dia sangat malu melihat tingkah laku keponakannya malam ini. Dia tidak menyangka Niko bisa bersikap sebodoh dan sebrutal ini di depan umum. Niko memohon pembelaan pada pamannya, mengatakan bahwa aku yang memulainya dengan bicara ngawur.
Tapi Tuan Bagaskara tidak mendengarkan. Dia justru menoleh padaku dan membungkuk sedikit, sebuah gestur penghormatan yang membuat semua orang ternganga. Aku memberi isyarat mata pada Pak Hadi.
Pak Hadi mengerti, dia tidak melepaskan Niko, tapi membawanya mundur beberapa langkah untuk memberiku jalan. Jalan menuju panggung utama kini terbuka lebar tanpa halangan. Aku merapikan hijabku sejenak, lalu mulai melangkah.
Suara langkah kakiku yang mantap terdengar jelas di lantai marmer. Semua mata mengikuti gerakanku. Mereka melihat wanita dengan pakaian sederhana itu berjalan membelah kerumunan menuju pusat kekuasaan.
Tidak ada lagi yang berani tertawa. Tidak ada lagi yang berani mencibir. Aura yang aku pancarkan kini murni aura kepemimpinan yang membuat siapapun secara naluriah menyingkir memberiku jalan.
Saatnya sandiwara ini diakhiri dan kebenaran diungkapkan. Aku menaiki anak tangga menuju panggung utama dengan langkah perlahan dan anggun. Cahaya lampu sorot mengikuti setiap gerakanku, menjadikan aku pusat perhatian tunggal di ruangan raksasa itu.
Di atas panggung, terdapat sebuah layar LED raksasa yang sedari tadi menampilkan logo ulang tahun perusahaan dan animasi grafis yang berputar-putar. Di samping layar itu, terdapat sebuah podium kaca futuristik yang dilengkapi dengan panel sensor canggih. Panel ini biasanya hanya digunakan oleh direktur utama untuk presentasi.
Namun malam ini panel itu akan melayani tujuan yang jauh lebih besar. Niko yang masih ditahan oleh Pak Hadi di bawah panggung terus memperhatikan dengan wajah bingung dan cemas. Dia berteriak bertanya apa yang akan aku lakukan di sana.
Dia menyuruhku turun karena itu area terlarang. Inara juga terlihat semakin gelisah. Dia mencoba menyelinap pergi ke arah pintu keluar.
Namun dua orang petugas keamanan wanita dengan sigap menghalangi jalannya tanpa menyentuhnya hanya berdiri kokoh memblokir akses keluar. Inara terjebak. Aku berdiri di depan podium.
Aku merogos aku tersembunyi di balik gamisku dan mengeluarkan kartu akses berwarna hitam pekat yang tadi aku simpan. Kartu itu terlihat kontras dengan kulit tanganku. Aku mengangkat kartu itu sebentar, membiarkan cahaya lampu memantul pada chip emasnya, lalu dengan gerakan tegas aku menempelkan kartu itu ke atas panel sensor di podium.
Bunyi B panjang terdengar menggema melalui sistem pengeras suara. Layar raksasa di belakangku berkedip sekali, lalu seluruh animasi ulang tahun perusahaan menghilang. Layar berubah menjadi hitam total selama dua detik, menciptakan ketegangan yang memuncak.
Kemudian, sebuah logo Garuda Emas muncul perlahan di tengah layar, diikuti oleh deretan data dan struktur organisasi perusahaan yang sangat rinci. Di posisi paling puncak struktur organisasi itu, terpampang sebuah foto besar. Itu adalah fotoku.
Foto diriku mengenakan hijab rapi dan blazer formal, dengan tatapan mata yang tajam dan wibawa. Di bawah foto itu tertulis nama lengkapku dengan huruf kapital besar, Yumna Al-Zahra, pemilik saham tunggal Chief Executive Officer, CEO Nusantara Group. Suara tarikan nafas kaget terdengar, serentak dari ratusan mulut di dalam ruangan.
Gumaman tidak percaya mulai berdengung seperti suara lebah. Orang-orang saling berpandangan, lalu menatapku yang berdiri nyata di atas panggung dengan pakaian sederhana, kemudian menatap foto megah di layar. Tidak ada keraguan lagi.
Wajah itu sama. Orang itu sama. Wanita yang baru saja dihina sebagai pembantu adalah pemilik dari seluruh gedung dan perusahaan tempat mereka bekerja.
Di bawah struktur namaku, layar menampilkan bagian direksi. Dan jauh di bawah, di bagian manajemen menengah, terpampang foto Niko. Namun, foto Niko memiliki tanda silang merah besar di wajahnya dengan status tertulis, dalam peninjauan pelanggaran berat kasus penipuan.
Data itu terpampang jelas, telanjang di hadapan semua kolega dan atasannya. Niko yang melihat layar itu membelalakan matanya sampai batas maksimal. Lututnya seketika lemas.
Jika tidak ditahan oleh Pak Hadi, dia pasti sudah ambruk ke lantai. Wajahnya kehilangan semua darah, menjadi seputih kertas. Mulutnya ternganga tapi tidak ada suara yang keluar.
Otaknya seolah berhenti bekerja, tidak sanggup memproses kenyataan bahwa istri yang selama ini dia anggap bodoh dan miskin ternyata adalah bos besarnya sendiri. Kenyataan ini menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik manapun. Tiba-tiba, sebuah pergerakan terjadi di barisan depan meja VIP.
Direktur utama perusahaan yang selama ini menjadi atasan yang paling ditakuti Niko berdiri dari kursinya. Dia merapikan jasnya dengan cepat, lalu memutar tubuh menghadap ke arahku di panggung. Tanpa ragu, dia membungkukan badannya 90 derajat, memberikan penghormatan terdalam.
Gerakan ini diikuti oleh jajaran direksi lainnya. Satu persatu, para petinggi perusahaan berdiri dan membungkuk hormat ke arahku. Pemandangan itu sungguh luar biasa.
Orang-orang paling berkuasa di perusahaan itu tunduk pada wanita berbaju lusuh di atas panggung. Para tamu undangan lain yang melihat itu pun ikut terbawa suasana. Rasa takut dan hormat menjalar dengan cepat.
Mereka yang tadi ikut menertawakan lelucon Niko kini menundukan kepala dalam-dalam, takut jika wajah mereka diingat olehku. Hening kembali menguasai ruangan, tapi kali ini bukan hening karena bingung, melainkan hening karena rasa segan yang amat sangat. Aku mendekatkan wajahku ke mikrofon di podium.
Suaraku terdengar jernih dan berwibawa memenuhi setiap sudut ballroom. Selamat malam semuanya. Ucapku tenang, maaf saya terlambat memperkenalkan diri secara resmi.
Saya Yumna. Gedung tempat kalian berpijak, makanan yang kalian nikmati, dan gaji yang kalian terima setiap bulan, semuanya berasal dari tanda tangan saya. Aku menatap lurus ke arah Niko yang kini sudah jatuh berlutut karena Pak Hadi melepaskan pegangannya.
Niko menatapku dari bawah dengan pandangan kosong, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ada yang mengatakan bahwa penampilan adalah segalanya. Lanjutku sambil menyentuh ujung hijab sederhanaku.
Tapi malam ini saya membuktikan bahwa penampilan hanyalah bungkus. Dan kamu, Niko, kamu terlalu sibuk menilai bungkus sampai lupa bahwa kamu sedang menggali kuburanmu sendiri di hadapan pemilik tanahnya. Aku menekan tombol lain di panel podium.
Layar di belakangku berubah tampilan lagi. Kali ini bukan struktur organisasi, melainkan deretan bukti percakapan pesan singkat, bukti transfer bank, dan rekaman CCTV. Itu adalah bukti-bukti perselingkuhan Niko dengan Inara, serta bukti penggelapan dana yang mereka lakukan.
Foto-foto pembelian tas mewah, jam tangan, hingga transaksi obat terlarang terpampang nyata. Cahaya dari layar LED raksasa di belakangku berpendar terang, menyinari seluruh ruangan ballroom yang kini tenggelam dalam keheningan total. Tidak ada satupun tamu yang berani bersuara, bahkan nafas mereka seolah tertahan di tenggorokan.
Semua mata terpaku pada data-data digital yang bergulir di layar, menampilkan aib dan kejahatan yang selama ini tersembunyi rapi di balik setelan jazz mahal dan senyum palsu suamiku. Aku berdiri di podium dengan tenang, membiarkan fakta berbicara lebih keras daripada teriakan amarah manapun. Aku melihat Nico yang masih berlutut di bawah panggung, tubuhnya gemetar hebat bukan karena dinginnya pendingin ruangan, melainkan karena rasa takut yang menjalar hingga ke sum-sum tulangnya.
Dia menatap layar itu dengan mata nanar, seolah berharap ini semua hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir saat dia terbangun. Namun ini bukan mimpi, ini adalah realitas kejam yang dia ciptakan sendiri. Aku mengetuk panel kendali di podium sekali lagi.
Layar di belakangku berubah tampilan. Kali ini bukan lagi struktur organisasi, ini merupakan deretan bukti transaksi perbankan yang sangat rinci. Terpampang jelas mutasi rekening perusahaan cabang yang dikelola oleh Nico.
Angka-angka berwarna merah menyala menunjukkan aliran dana keluar yang tidak wajar. Di samping angka-angka itu, terdapat pindaian struk belanja dan tagihan kartu kredit. Para tamu undangan mulai berbisik-bisik, menunjuk ke arah layar dengan wajah tidak percaya.
Mereka melihat bukti pembelian tas tangan mewah merek ternama seharga ratusan juta rupiah, perhiasan berlian, hingga tagihan menginap di suite hotel Bintang 5 di luar kota. Semua transaksi itu dibayar menggunakan kartu kredit korporat yang seharusnya digunakan untuk biaya operasional kantor dan menjamu klien penting. Aku mencondongkan tubuh ke mikrofon, suaraku menggema memenuhi ruangan, berat dan menghakimi.
Aku mulai membacakan satu persatu bukti yang terpampang di sana. Aku menyebutkan tanggal transaksi di mana Nico beralasan sedang dinas luar kota untuk meninjau proyek. Namun bukti tagihan menunjukkan dia sedang berada di pusat perbelanjaan mewah membeli kalung berlian.
Aku melihat ke arah Inara yang berdiri kaku di dekat pintu keluar yang dijaga ketat. Leher Inara berkilauan tertimpa cahaya lampu, dan semua orang kini sadar dari mana asal kalung yang melingkar indah di lehernya itu. Kalung itu dibeli dengan uang perusahaan, uang yang seharusnya menjadi hak karyawan dan pemegang saham.
Wajah Inara pucat pasi, tangannya gemetar meraba lehernya sendiri seolah kalung itu tiba-tiba berubah menjadi lilitan ular yang mencekik. Niko mencoba bangkit berdiri, kakinya goyah seperti orang mabuk. Dia berteriak dengan suara parau, berusaha menyangkal semua yang ada di layar.
Dia menuduhku memalsukan data, dia berteriak bahwa itu semua fitnah keji yang dibuat oleh istrinya yang sakit hati. Dia berusaha meyakinkan teman-temannya dan Tuan Bagaskara bahwa aku meretas sistem perusahaan untuk menjebaknya. Namun, teriakannya terdengar kosong dan putus asa.
Tidak ada yang mendengarkannya. Data di layar itu terlalu detail, terlalu akurat dan memiliki stempel verifikasi ban yang tidak mungkin dipalsukan dalam waktu singkat. Teriakan Niko justru membuatnya terlihat semakin menyedihkan, seperti pencuri yang tertangkap bahasa namun masih bersikeras bahwa dia hanya meminjam.
Aku tidak mempedulikan teriakan Niko. Aku menekan tombol berikutnya. Layar berganti menampilkan rekaman CCTV.
Kualitas gambarnya sangat jernih, definisi tinggi. Video itu memperlihatkan ruang kerja Niko di kantor. Di sana, terlihat jelas Niko sedang memberikan amplop tebal kepada seorang pria asing yang mencurigakan.
Lalu video beralih ke rekaman lain, memperlihatkan Niko dan Inara sedang berada di sebuah kelab malam privat. Di meja mereka, terlihat botol-botol minuman mahal dan bungkusan kecil berisip pil-pil berwarna-warni. Itu adalah obat terlarang.
Video itu memperlihatkan Niko tertawa lepas sambil menelan pil tersebut, lalu memberikan sisanya kepada Inara. Wajah mereka terlihat sangat jelas, tidak bisa disangka lagi. Suara desahan kaget terdengar dari para tamu undangan.
Menggelapkan uang perusahaan adalah satu hal, tapi terlibat dengan obat terlarang adalah skandal yang jauh lebih besar dan fatal. Direktur utama yang berdiri di barisan depan menggelengkan kepalanya dengan wajah merah pada menahan marah. Dia merasa dikhianati oleh bawahan yang selama ini dia percaya dan dia promosikan.
Dia menatap Niko dengan pandangan jijik, seolah tidak mengenal pria yang kini terlihat hancur di depan panggung itu. Reputasi perusahaan dipertaruhkan malam ini dan aku, sebagai pemilik tunggal, sedang membersihkan oda itu langsung dari sumbernya. Aku menatap Niko yang kini terdiam seribu bahasa melihat video dirinya sedang berpesta obat terlarang diputar berulang-ulang di layar raksasa.
Mulutnya ternganga, matanya kosong. Kartu Aster akhirnya sudah mati. Tidak ada lagi penyangkalan yang bisa menyelamatkannya dari bukti visual sejelas ini.
Aku kembali berbicara lewat mikrofon. Aku berkata pada Niko bahwa dia selalu menghina penampilanku. Dia bilang aku norak, kampungan, dan memalukan.
Dia bilang gamis yang kupakai ini tidak berharga. Aku menatap tajam ke matanya dan berkata dengan nada dingin bahwa satu set pakaian sederhana yang aku pakai ini dibeli dengan uang halal, uang hasil keringat, dan kerja kerasku sendiri. Sedangkan jas mahal yang dia pakai, jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, dan sepatu mengkilap yang dia banggakan, semuanya dibeli dari uang curian.
Aku bertanya padanya di depan semua orang, siapa yang sebenarnya lebih memalukan malam ini? Siapa yang sebenarnya? Gembel, yang hidup dari belas kasihan uang orang lain? Pertanyaan itu menohok ulu hatinya, meruntuhkan sisa-sisa harga diri yang masih dia genggam. Niko menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia tidak sanggup menatap mata para tamu yang kini memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Teman-temannya yang tadi tertawa bersamanya kini mundur menjauh, membuat jarak yang lebar seolah Niko membawa penyakit menular. Mereka tidak mau dikaitkan dengan pencandu obat. Rudy, teman yang tadi paling keras tertawa menghinaku, kini pura-pura sibuk melihat ponselnya, berusaha menyembunyikan wajahnya.
Pengkhianatan sosial terjadi begitu cepat. Saat kau di atas, semua orang mengaku teman. Saat kau jatuh dan terbukti busuk, bayanganmu sendiri pun enggan menemani.
Aku melanjutkan pidatoku. Aku mengumumkan dengan tegas bahwa permalam ini, segala akses dan wewenang Niko di Nusantara Group dicabut secara total. Aku menyatakan pemecatan tidak hormat untuk saudara Niko Baskara dan saudari Inara.
Suaraku bergema tegas, tidak ada keraguan sedikitpun. Namun, hukuman tidak berhenti di situ. Aku menampilkan satu selide terakhir di layar.
Sebuah dokumen audit forensik yang menunjukkan total kerugian negara dan perusahaan akibat ulah Niko. Angkanya fantastis, mencapai 5 miliar rupiah. Aku membacakan angka itu dengan lantang.
5 miliar rupiah uang perusahaan yang dia pakai untuk foya-foya dan membiayai gaya hidup Inara. Aku menatap Niko dan berkata bahwa dia punya utang 5 miliar padaku. Dan aku menuntut pelunasan malam ini juga, atau seluruh aset pribadinya akan disita oleh tim legal perusahaan yang sudah bersiap di luar ruangan.
Aku tahu Niko tidak punya uang sebanyak itu. Gajinya memang besar, tapi gaya hidupnya jauh lebih besar. Dia tidak punya tabungan, dia hanya punya utang dan gengsi.
Wajah Niko semakin pucat mendengar nominal itu. Dia tahu dia sudah tamat. Dia bukan hanya kehilangan pekerjaan, tapi dia akan jatuh miskin.
Semiskin-miskinnya. Dia akan kehilangan rumah, mobil, dan segala kemewahan yang selama ini dia sembah. Inara tiba-tiba berteriak histeris dari tempatnya berdiri.
Dia menangis meraung-raung, mengatakan bahwa dia tidak tahu apa-apa soal uang itu. Dia berteriak bahwa Niko yang memberikannya semua barang itu sebagai hadiah. Dia mencoba mencuci tangan, berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari jerat hukum.
Tapi aku menatapnya dingin. Aku berkata bahwa sebagai penerima barang hasil kejahatan, dia juga bisa dijerat pasal penadah dan pencucian uang. Tangisan Inara semakin keras, dia merosot ke lantai, merusak gaun malamnya yang indah.
Pemandangan itu sungguh ironis. Pasangan yang satu jam lalu masuk ke ruangan ini bak raja dan ratu, kini merangkak di lantai seperti pesakitan yang memohon ampun. Aku matikan layar.
Ruangan kembali diterangi lampu normal, namun suasananya sudah berubah total. Atmosfer pesta sudah lenyap, berganti menjadi ruang pengadilan jalanan. Aku turun dari podium, langkah kakiku terdengar menakutkan bagi Niko.
Aku berjalan mendekati pinggir panggung, berdiri tepat di atas tempat Niko berlutut. Aku menatap puncak kepalanya. Dulu, aku selalu menunduk di hadapannya, takut membuatnya marah.
Hari ini, posisi itu berbalik 180 derajat. Dia yang menunduk, gemetar, dan tidak berdaya di bawah kakiku. Hukuman sosial sudah selesai.
Niko? Bisiku pelan, namun cukup terdengar olehnya karena keheningan ruangan. Sekarang bersiaplah untuk hukuman hukum. Kamu pikir kamu bisa menghinaku dan merampok perusahaanku tanpa konsekuensi? Kamu salah besar memilih lawan.
Istri yang kamu sebut pembantu ini baru saja menyapu bersih masa depanmu. Niko mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, air mata membasahi pipinya.
Bukan air mata penyesalan, aku tahu itu. Itu adalah air mata ketakutan dan rasa kasihani pada diri sendiri. Dia melihat sekeliling, mencari celah, mencari pertolongan.
Matanya tertuju pada Tuan Bagaskara. Satu-satunya harapannya, pamannya, darah dagingnya. Niko berpikir bahwa ikatan keluarga benar-benar merangkak dengan lutut dan tangannya di lantai marmer yang dingin, menuju ke arah Tuan Bagaskara yang berdiri mematung dengan wajah kecewa.
Pemandangan seorang manajer yang merangkak seperti bayi di tengah pesta mewah sungguh menyedihkan dan menjijikan, tapi itulah harga yang harus dibayar untuk kesombongan yang melampaui batas. Niko merangkak susah payah mendekati Tuan Bagaskara. Jazz mahalnya kotor tersapu debu lantai, lutut celananya mungkin sudah robek tergesek marmer.
Dia tidak peduli lagi dengan harga diri, insting bertahan hidupnya mengambil alih. Dia mencapai kaki pamannya dan memeluk kaki celana panjang bahan itu dengan erat. Dia menangis terseduh-seduh, suaranya pecah dan menyayat hati bagi siapapun yang tidak tahu kelakuan bejatnya.
Dia memanggil-manggil, paman, berulang kali, memohon pertolongan, memohon agar pamannya berbicara padaku untuk mencabut semua tuduhan. Dia bersumpah demi Tuhan bahwa dia akan mengembalikan uang itu, dia akan bekerja seumur hidup tanpa gaji, asalkan dia tidak dipenjara dan tidak dipermalukan lebih jauh lagi. Tolong aku, paman, aku keponakanmu, darah dagingmu, raung niko di kaki Tuhan Bagaskara.
Paman tahu aku orang baik, aku cuma hilaf, jangan biarkan mereka menangkapku. Bicara pada Yumna, paman, dia pasti dengar omongan paman, tolong aku. Tuhan Bagaskara menatap ke bawah, melihat keponakannya yang sudah tidak berbentuk manusia beradap lagi.
Wajah tua itu mengeras, rahangnya mengetat menahan amarah yang sudah sampai diubun-ubun. Selama ini dia membanggakan Niko, merekomendasikannya untuk posisi strategis, menjamin integritasnya di depan Dewan Direksi. Dan inilah balasan yang dia terima.
Niko bukan hanya mencuri uang, tapi dia menghina pemilik perusahaan, orang yang paling dihormati Tuhan Bagaskara, dan mempermalukan nama baik keluarga besar Bagaskara di hadapan ratusan kolega bisnis. Dengan gerakan tegas dan tanpa ragu, Tuhan Bagaskara menyentakan kakinya, melepaskan peluka Niko hingga tubuh Niko terhuyung ke belakang dan jatuh terlentang. Niko terbelala kaget, tidak menyangka akan ditendang oleh pamannya sendiri.
Tuhan Bagaskara menatap Niko dengan tatapan dingin, seolah sedang melihat sampah yang harus segera dibuang. Jangan panggil aku paman, suara Tuhan Bagaskara rendah tapi menusuk tajam. Malam ini, detik ini juga, aku putuskan hubungan kekeluargaan denganmu.
Aku malu. Sangat malu punya keponakan sebodoh dan sejahat kamu. Kamu bukan hanya pencuri, Niko.
Kamu manusia tidak tahu diuntung. Kamu punya berlian di rumah, istri yang sholehah, cerdas, dan kaya raya. Tapi kamu malah memungut kerikil jalanan dan memamerkannya seolah itu permata.
Tuhan Bagaskara menunjuk ke arahku yang berdiri di atas panggung. Ibu Yumna adalah atasan saya. Beliau adalah orang yang menyelamatkan perusahaan ini dari kebangkrutan lima tahun lalu saat ayahmu, kakakku sendiri, gagal mengelolanya.
Kamu tidak tahu sejarah itu karena kamu sibuk foya-foya. Dan sekarang kamu memintaku membela kamu di hadapan beliau. Kamu salah alamat.
Nah, hukum harus ditegakkan. Nama baik keluarga Bagaskara lebih penting daripada menyelamatkan satu anggota keluarga yang busuk. Penolakan mentah-mentah dari Tuhan Bagaskara membuat dunia Niko runtuh sepenuhnya.
Benteng terakhirnya sudah hancur. Dia menatap pamannya dengan pandangan tidak percaya, lalu beralih menatapku. Dia sadar pamannya tidak akan membantu.
Kini dia beralih strategi. Dia bangkit duduk, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arahku lagi. Wajahnya berubah memelas, dibuat sesedih mungkin.
Dia mencoba memainkan kartu emosional sebagai suami. Dia berpikir bahwa hati seorang wanita pasti lembut dan mudah luluh jika disentuh dengan kenangan masa lalu. Sayang, Yumna, istriku.
Panggil Niko dengan suara bergetar yang dibuat-buat. Dia mengangkat tangannya ke arahku seolah ingin meraihku. Sayang, tolong jangan begini.
Aku tahu aku salah. Aku hilaf. Aku tergoda setan.
Tapi ingatlah pernikahan kita. Sayang, ingat janji suci kita lima tahun lalu. Kita pernah bahagia, kan? Aku suamimu, imammu.
Masa kamu tega melihat suamimu masuk penjara, di mana hati nuranimu sebagai istri? Maafkan aku, sayang.
Aku janji akan berubah, aku akan pecat inara, aku akan kembali padamu.
Kita mulai lagi dari nolia, aku cinta kamu, yumna, cuma kamu.
Mendenar kata-kata manis yang berbisa itu perutku terasa mual, betapa hebatnya dia berakting.
Baru 10 menit yang lalu dia menyebutku pembantu nora, dan sekarang dia memanggilku sayang dan imam.
Inara yang mendengar nikom menyelakannya dan berjanji akan memecatnya, tiba-tiba meledak amaranya.
Rasat takut inara berubah menjadi kebencian mendalam.
Dia merasa dihianati. Dia sudah menyerahkan segalanya untuk nikom, dan sekarang nikom mau membuangnya begitu saja demi menyelamatkan diri sendiri.
Inara bangkit-ber diri, menyeka air matanya dengan kasar.
Dia berjalan cepat mendekati nikom dan berteriak lantang, menunjuk wajah nikom dengan jaringnya yang berkutek merah.
Dasar laki-laki pengecut. Bua ya darat, apa kamu bilang?
Kamu mau pecat aku? Kamu bilang kamu cinta aku? Kamu bilang istrimu itu memusankan?
Kaku? Dan tidak bisa memuaskanmu? Kamu yang merayukku duluan?
Niko? Kamu yang memaksa aku ikut memakai obat terlarang itu?
Kamu bilang itu fitamin biar kuat kerja? Sekarang kamu mau cucitangan dan menyalahkan aku?
Niko panik karena inara membuka air plebilebar?
Dia ber diri dan mencoba menutup mulut inara.
Dia muka. Dia muka.
Dasar perempuan gila. Kamu yang menggoda aku. Kamu yang minta tas mahal. Kamu yang minta liburan ke luar negeri.
Kalau bukan karena tuntutan gaya hidupmu, aku tidak akan korupsi.
Oh, jadi sekarang salahku.
Inara membalas dengan ternyakan lebih keras, mendorong dadan niko.
Siapa yang tanda tangan cek itu? Kamu? Siapa yang punya access berangkas?
Kamu? Jangan bawa-bawa aku. Ibu yumna.
Inara menoleh ke arahku, berteriap putus asa.
Bu, niko yang otak segalanya, saya cuma korban manipulasinya.
Dia bilang dia direktor utama, dia bilang dia bujangan kaya.
Saya ditipu, Bu, penjarakan saja dia, jangan saya.
Mereka berdua mulai saling dorong, saling cakar dan saling maki di depan ratusan orang.
Ada gan itu sungguh memalukan sekaliguhs memuaskan.
Dua orang yang tadinya bersatu dalam kesembungan dan dosa,
kini saling tikam saat kapal mereka karam.
Topeng cinta sejati yang mereka agung-agungkan ternyata serapuh kertas tisu.
Tidak ada cinta di sana, yang ada hanya kepentingan dan nafsu.
Saat kepentingan terancam, mereka menjadi binatang buas yang saling memangsah.
Para tamu undangan, menggelengkan kepala melihat tontonan drama picihan
yang terjadi secara langsung itu.
Tuan baga skara memalinkan wajah,
tidak sudi melihat kepunakannya berkelahi seperti preman pasar dengan wanita simpanannya.
Aku hanya berdiri diam di atas panggung,
menatap mereka dengan wajah datar tanpa emosi.
Aku tidak perlu melakukan apa-apa lagi.
Mereka menghancurkan diri mereka sendiri.
Kerma bekerja dengan cara yang lucu dan instant malam ini.
Aku melihat jam tanganku.
Waktu nya sudah tepat.
Dari arah pintu utama lobby,
terdengar suara serin mobil polisi yang merau-merau,
semakin lama-semakin dekat,
menembus dinding kaca hotel hingga terdengar kedalam bol rum.
Pintu bol rum terbuka kasar.
Sekelompok petugas ke polisian berseragam lengkap masuk dengan langkah tegap
dipimpin oleh seorang perwira tinggi.
Mereka membawa surat penangkapan resmi.
Suara keributan niko dan inara terhenti
setiikat saat melihat polisidata.
Wajah mereka yang tadi merah karena marah kini kembali pujat pasi.
Kali ini permanan.
Mereka sadar bahwa permainan sudah benar-benar berakhir.
Tidak ada lagi negosiasi,
tidak ada lagi drama.
Hukum negara sudah hadir untuk menjemput.
Saudara niko baskara dan saudari inara,
tanya perwira polisi itu tegas.
Niko mundur selangkah, menggelengkan kepala,
mulutnya menggumamkan kata,
tidak berulang kali.
Tapi polisi tidak butuh per setujuannya.
Dua petugas langsung maju,
menarik tangan niko ke belakang
dan bunyi klik logam dinging terdengar jelas.
Borgol sudah terpasang.
Inara juga langsung diamankan oleh poluan,
tangannya ikut di Borgol.
Niko meronta saat digiring polisi.
Dia menoleh ke arahku untuk terakhir kalinya.
Matanya memancarkan keputusan sasaan yang amat sangat.
Yumna, istriku,
tolong,
jangan biarkan mereka membawa aku.
Aku suamimu, yumnaa.
Aku turun dari panggung perlahan,
mendekati mereka yang sedang digiring keluar.
Polisi memberi jalan sedikit agar aku bisa bicara.
Aku berdiri tepat di depan niko.
Aku menatap matanya yang basah.
Niko, ucap kupelan, namun tajam.
Ingat katak-katamu tadi.
Gayamunorak, maklum cuman pembantu.
Nah, sekarang dengarkan baik-baik.
Rumah dinas yang kamu tempati,
mobil sedan yang kamu banggakan
dan semua facilitas mewa itu,
kuncinya sudah ditarik oleh manajemen lima menit yang lalu.
Barang-barang pribadi mu,
baju-baju mu,
semuanya sudah dikemas dalam plastik sampahe tam
dan ditaruh di posat pem depan.
Kamu tidak punya rumah untuk pulang.
Niko ternangah,
air matanya menetest jatuh ke lantai.
Dan satu lagi,
lanjutku, mendekatkan wajahku ketelinganya.
Jangan berharap aku akan menjemuk mu
atau membawakan makanan.
Surat gugatan cerai
akan digirin pengacaraku besok pagi langsung kesel tahanan mu.
Nik matilah hidup baru mu di penjara.
Di sana,
kamu akan belajar arti sebenarnya dari kata,
bersih-bersih.
Selamat tinggal,
mantan suami.
Aku memundurkan langkah,
memberi kode pada polisi
untuk membawa mereka pergi.
Niko berteria hysteris memanggil namaku
seadia di seret paksa keluar ruangan.
Suaranya semakin lama-semakin menjau
dan akhirnya hilang tertelang pintu yang tertutup.
Inara hanya bisa menangis
seenggukan tanpa suara,
kepalanya tertunduk dalam.
Ruangan kembali hening.
Beban berat di daqurasannya terangkat setiqa.
Udara terasa lebih segar.
Aku menarik napa spanjang,
menghirup aroma kemenangan.
Tuan baga skara berjalan mendekatiku.
Dia menepuk bahukup pelan,
sebuah gastur dukungan
seorang ayah kepada anaknya.
Kamu melakukan hal yang benar.
Nak,
maafkan paman yang terlambat
menyadari kebusukan ini.
Aku tersenyum tulus pada periatuah itu.
Tidak apa-apa,
paman,
semuanya sudah selesai.
Sekarang,
kita punya pekerjaan rumah yang besar.
Kita harus memberi sisa-sisa
kekacawan ini
dan membangun ulang ke percayaan tim.
Malam itu,
pesta ulang tahun perusahaan berubah
menjadi malam pemercihan besar-besaran.
Tidak ada pesta dan sa,
tidak ada hurah-hura.
Namun bagi seluruh karyauan yang jujur,
malam itu adalah
kemenangan moral yang tak ternilai harganya.
Sangparasi telah dibuang,
dan sangratu telah kembali
menduduk thtanya dengan cara yang paling elegant.
Hirup piku yang terjadi
akibat penangkapan iku dan inara perlahan mereda,
meninggalkan kehiningan yang canggung
di dalam bol rum hotel megah tersebut.
Udara yang tadinya penuh
dengan ketegangan kini terasa sedikit lebih ringan,
meskis sisa-sisa drama
masih menggantung di langit-langit ruangan.
Para tamu undangan,
yang terdiri dari jajaran direksi,
manayer senior,
dan meetra business,
masih berdiri terpaku di tempat masing-masing.
Mereka seolah baru saja
menyaksikan sebuah pertunjukan teatre teragis
yang dimainkan secara langsung tanpa naskah.
Tatapan mereka berali
dari pintu keluar tempat niko di seret,
kembali ke arah panggung
tempat aku berdiri.
Namun kali ini,
tatapan itu berbeda.
Tidak ada lagi pandangan meremehkan,
tidak ada lagi bisik-bisik menjemoh
tentang pakaian ku yang sederhana,
yang ada hanyalah rasa hormat yang mendalam,
bercampur dengan ketakutan dan kekaguman.
Aku menarik nappas panjang,
mengisi para-paru ku dengan udara kemenangan
yang menenangkan.
Aku merapikan sedikit ujung hijapku
yang terkena hembusan
angin pendingin ruangan,
lalu kembali mendekatkan wajah ke mikrofon.
Suaraku terdengar tenang dan stabil,
seolah tidak baru saja mengirim
suami ku sendiri ke penjara.
Aku mengucapkan permohonan maaf
kepada seluruh tamu
atas ketidaknya manan yang terjadi.
Aku menjalaskan
bahwa tindakan pemercihan ini,
harus dilakukan secara terbuka
untuk menunjukkan integritas perusahaan
yang tidak menoleransi kecurangan
dalam bentuk apapun.
Aku menegaskan bahwa nusantara grup
akan tetap berjalan seperti biasa,
bahkan akan menjadi lebih kuat
setelah benal-benal lu dibersihkan
dari akarnya.
Para tamu mengangguk setuju,
beberapa bahkan mulai bertepuk tangan pelan,
yang kemudian diikuti oleh
tepuk tangan mereja dari seluruh ruangan.
Itu adalah
tepuk tangan pengakuan
atas otoritasku.
Setelah menutup acara secara resmi,
aku turun dari panggung.
Tuan baga skara
dan direktor utama
langsung menghampiriku.
Kami berbincang
sebentar mengenai langkah-langkah
hukum selanjutnya.
Aku memberikan instruksi
kegaas kepada tim legal perusahaan
yang sudah bersiaga
untuk segera memproces penjitaan aset Niko.
Aku tidak ingin menundah sederik pun.
Malam ini juga,
tim ekskusi harus bergerak
rumah dinas yang selama ini
ditempatin Niko.
Semua facilitas
harus ditarik.
Aku ingin memastikan
bahwa ketika Niko sadar nanti,
dia tidak memiliki
apa-apa lagi
selain baju tahanan yang melekat di tubuhnya.
Sementara itu,
di kantor kepolisian district,
suasana yang jauh
berbeda sedang terjadi.
Niko dan inarati
bad dengan mobil patroli
dalam keadaan yang menyedihkan.
Niko,
yang beberapa jam lalu
masih merasa sebagai raja dunia
dengan jas mahalnya,
kini duduk terpuru
di kursi ruang
pemeriksaan
dengan tangan masih terborgo.
Jasnya sudah kusut,
rambutnya berantakan,
dan wajahnya
semba bekas air mata.
Petugas polisi yang
memberiksanya tidak memberikan
perlakuan istimewa
sedikit pun.
Bagi mereka,
Niko hanyalah
satu dari sekian
banyak penjahat-keraputi
yang tertangkap basah.
Niko berusaha menggunakan
taktik lamanya,
dia mencoba
menggertap petugas
dengan menyebutkan
nama-nama pejabat yang diaknal,
berharap bisa mendapatkan
perlakuan husus
atau sambungan telefon.
Namun,
petugas itu hanya
tertawasinis
dan menyuruhnya diam.
Proces pemeriksaan
berlangsung alot
dan melalahkan.
Niko dicechar pertanyaan
mengenai aliran
dana 5 miliar rupiah
yang hilang.
Buktibukti
yang aku berikan
sudah sangat lengkap.
Sehingga setiap
penyangkalan yang keluar
dari mulut Niko
langsung bisa dipatahkan
oleh penyidik dengan data valid.
Niko terpojok.
Dia tidak bisa lagi berbohong.
Diruangan sebelah,
suara inara
terdengar melengking hysteris.
Dia sedang diperiksa
oleh penyidik wanita.
Inara terus menerus menyalahkan Niko.
Mengaku bahwa dia hanya dijebak
dan tidak tahu
asal usul uang yang dipakain Niko
untuk membelikannya barang mewah.
Penghianatan diantara mereka
semakin nyata.
Cinta yang mereka
agung-agungkan ternyata
tidak lebih kuat
dari rasat takut
akan penjara.
Malam semakin larut.
Setelah process
berita acara pemeriksaan awal
selesai,
Niko digiring menuju
sel-tehanan sementara.
Sebelum masuk ke sel,
petugas memintanya
melepaskan semuah barang pribadi.
Jam tangan mewah yang diabanggakan,
dompet kulit,
ikat pinggang,
sepatu mengkilap,
hingga jazz formalnya,
semuanya dilucuti.
Niko harus menukar
pakayan mahalnya
dengan kaus oblong kusam
dan celana pendek tehanan
yang ukurannya kebesaran.
Seat dia melihat
pantulan dirinya dikacaburampus jaga,
Niko menangis lagi.
Identitasnya sebagai
pria sukses telah dilucuti
secara harfia.
Kini dia hanyalah
seorang tehanan nomor sekian.
Dia dimasukan
ke dalam sel yang dingin,
pengab,
dan berbau tidak sedap.
Bergabung
dengan tehanan lain
yang menatapnya
dengan pandangan buas.
Tidak ada kasur umpuk,
tidak ada pendingin ruangan,
hanya ada lantai semen yang keras.
Kaisokan paginya,
berita penangkapan Niko
menyebar dengan kecepatan cahaya.
Video saat aku
membuka identitas asli di panggung
dan saat Niko di seret polisi
menjadi viral di media sosial.
Netizen memberikan
komentar pedas
dan hujatan tanpa ampun.
Nama Niko
Baskara Hancur Total.
Jejak di gitalnya
di penuhi cahaya maki.
Teman-teman sosialitanya
yang dulu sering memuji
gaya hidup mewahnya,
kini berlomba-lomba
membuat clarifikasi
bahwa mereka
tidak dekat dengan Niko.
Mereka membelokir
akun media sosial Niko
dan menghapus foto-foto
ke bersamaan mereka.
Niko benar-benar
diisolasi secara sosial.
Dia menjadi paria,
orang buangan
yang tidak diinginkan
oleh siapapun.
Di saat yang sama,
tim legal perusahaan
di dampingi petugas keamanan
mendatangi rumah dinas
yang selama ini di tempatin Niko.
Mereka membawa surat
perintah pengosongan.
Karena rumah itu
adalah aset perusahaan,
prosesnya berjalan cepat.
Petugas masuk
dan mulai mengomasi barang-barang.
Namun,
sesuai instruksiku
tidak ada perlakuan halus.
Barang-barang
pribadi Niko
seperti baju-baju brandit,
koleksis patu,
dan gadget.
Dimasukan begitu saja
ke dalam kantong plastik
sampai hitam besar.
Tidak ada koperapi,
tidak ada pelipatan
yang hati-hati.
Semuanya diperlakukan
seperti sampah.
Kantong kantong plastik itu
kemudian ditumpuk di posad
pem depan kompleks.
Persi seperti yang aku
katakan pada Niko.
Mobil sedandina
siang biasa di pakai Niko
dan inara
untuk berselingku
juga ditari.
Petugas mencaput kunci,
memeriksa kondisi mesin,
lalu membawa mobil itu
pergi kembali
kegerasi pusat perusahaan.
Dalam hitungan jam,
rumah mewah itu
kosong melompong.
Tidak ada lagi
jajat ke mewahan Niko di sana.
Yang tersisa
hanyalah dinding-dinding bisu
yang menjadi saksi
keankuhan penghuninya
yang lama.
Tetangga sekitar menonton
proses pengosongan itu
dengan antusias.
Bergunjing
tentang nasib
teragi sang menaiir
sombong yang ternyata koruptor.
Rasam lalu itu
tidak hanya
dirasakan Niko di penjara.
Tapi juga
mencoreng
sisa-sisa namabai
iknya di link kungan
tempat tinggalnya.
Siang harinya,
seorang pengacara
yang aku utus datang
mengunjungi Niko di penjara.
Niko yang melihat
kedatangan pengacara
berpakayan rapi
sempat memiliki
secerca harapan.
Dia mengira
aku mengirim bantuan
karena tidak tega.
Dia berlari
mendekati juru jibesi,
wajahnya penuh harap.
Namun,
harapan itu
hancur berkeping-keping
saat pencara itu
tidak menyodorkan surat penangguhan
penahanan,
melayinkan
sebuah dokument
terbal berisi rincian utang
dan gugatan perdata.
Pencara itu
menjalaskan dengan dingin
bahwa selain menghadapi
hukuman penjara,
Niko juga di
gugat untuk mengambalikan
kerugian negara
sebesar 5 miliar rupiah
di tambah bunga
dan denda.
Karena Niko tidak
memiliki uang tunai,
maka seluruh aset
pribadi-nya yang
tersisa akan di sita
dan dilelang.
Tabungan pribadi-nya
yang tidak
seberapa sudah dibekukan
oleh ban,
atas permintaan penyidik.
Tanah
warisan kecil dari orang
tuanya di kampung
juga akan di sita.
Pencara itu
menegaskan bahwa Niko
benar-benar jatuh
miskin.
Bahkan jika nanti
dia keluar dari penjara
bertahun-tahun kemudian,
dia akan tetap dikejar
oleh utang
yang menumpuk ini.
Dia akan hidup
melarat
seumur hidupnya.
Niko merosot
kelantai sel,
memegang kertas
gugatan itu dengan tangan
gemetar.
Dia baru menyeh dari
bahwa ke miskinan
yang akan dia
hadapi jauh lebih
mengerikan daripada ke
miskinan yang pernah diahina
pada diriku.
Dulu dia menghinaku
miskin karena
berpakaian sederhana,
padahal aku
memiliki segalanya.
Sekarang,
dia benar-benar
menjadi orang
miskin dalam arti
yang sesungguhnya.
Tidak punya uang,
tidak punya aset,
tidak punya
nama baik,
dan tidak punya masa
depan.
Dia teringat kata-kata
kutentang,
pembantu,
yang memersihkan
sampah.
Dia sadar,
dia alas sampah itu,
dan dia telah
dibuang ketempat
yang seharusnya.
Penyesalan datang
bergelombang menghantam
dadanya,
tapi itu adalah
penyesalan yang terlambat
dan egois.
Dia tidak
menyesal telah jahat.
Dia hanya menyesal
karena ketahuan
dan kehilangan segalanya.
Di luar penjara,
aku duduk di ruang kerjaku
yang luas di lantai
teratas gedung
nusantara grup.
Aku melihat laporan
dari tim legal,
bahwa proses penyitaan
berjalan lancar.
Aku menyesap tehangatku
dengan tenang.
Tidak ada rasa sedih,
tidak ada air mata
untuk suami
yang telah menghianati
kepercayaan.
Yang ada hanya
lah rasa lega
yang luar biasa.
Beban berat yang selama
5 tahun ini,
menekan dataku
akhirnya hilang.
Aku menata
pemandangan kota
dari balik jendelaka
cabasar.
Lagi terlihat
cerah hari ini,
aku telah berhasil
membalikan keadaan,
mengubah posisi
dari yang terhina
menjadi yang berkuasa,
dari korban
menjadi pemenah.
Keadilan telah
menjadi tegakan
dengan cara yang paling
menyakitkan bagi pelakunya.
Satu tahun
telah berlalu
sejak malam pesta
yang menggemparkan itu.
Waktu berjalan
begitu cepat
bagi mereka yang sibuk
berkarya,
namun terasa sangat
lambat bagi mereka
yang menghitung hari
di balik juru jibesi.
Di sebuah
lembaga pemasiar
kataan yang padat dan pengab,
seorang periak
kurus dengan kepala gundul
sedang berjongkok
di lantai kamar mandi umum penjara.
Tangannya
memegang si katoese
yang sudah bulukan,
menggosok
no-demembandel
di lantai kramik yang kota.
Bau amonia
dan kotauran menusuk hidung,
membuat perut
mual bagi siapas aja
yang tidak terbiasa.
Tapi periak itu,
Niko
sudah terbiasa.
Atau lebih tepatnya,
dipaksa terbiasa.
Nasib memiliki
selera humor yang ironis.
Dulu,
Niko menghina
istrinya dengan sebutan
tukang bersi bersi,
atau
pembantu,
hanya karena
sang istri rajin
merawat rumah.
Sekarang,
di dalam penjara,
tugas
bersihhan block.
Setiap pagi buta,
dia harus bangun,
memberi sikan selasar,
menikat waseumum
yang dipakai ratusan
arah pidana,
dan mengangkut sampah.
Dia benar-benar
menjadi tukang bersih bersih
dalam arti yang paling rendah.
Tidak ada lagi
jas mahal,
tidak ada lagi
parfumuangi.
Tubuhnya,
kini bau keringat
dan pemersi lantai murahan.
Kulitnya yang dulu terawat
kini kusam
dan penubakas
gigitannya muk
atau luka gores.
Niko berhenti
sejenak untuk menyeka keringat
di dahinya
dengan lenghan baju
tahanannya yang ku cel.
Napasnya terengah-engah.
Usiannya belum terlalu tua,
tapi beban hidup
dan depresi membuatnya
terlihat 10 tahun
lebih tua.
Pipinya cekung,
matanya layu
dan kehilangan cahaya.
Di penjara,
dia menjadi
sasaran empuk
perundungan
arah pidana lain.
Statusnya,
sebagai mantan menayer koruptor
yang sombong membuatnya dibenci.
Tidak ada yang
mau berteman dengannya.
Bahkan inara,
yang ditahan di block wanita,
dikabarkan
sudah menikasiri
dengan seorang bandar narcova
di dalam penjara,
demi mendapatkan perlindungan
dan uang jajan,
melupakan Niko
sepenuhnya
seolah mereka tidak pernah
saling kenal.
Saat jam istirahat siang,
Niko duduk di pojok
cantin penjara,
memakan nasi cadung,
nasi jata penjara yang krass
dengan lauk temperbus yang hambar.
Dia makan dengan lahab
karena kelaparan,
melupakan selera lidahnya
yang dulu hanya maumakan
di restoran mewah.
Di sudut cantin,
sebuah
televisita bungtua menyalah,
menayangkan beritas siang.
Biasanya Niko
tidak peduli.
Tapi hari ini,
suara penyita berita
menyebutkan nama
yang sangat diakenal.
Nama yang membuat jantungnya
berhenti berdetak sesaat.
Nusantara grup
kembali mencata
trekor keuntungan
ternyata ini di bawah
ke pemimpinan CEO
Jungna Al-Zahra.
Hari ini,
ibu Jungna
meresmikan
gedung pencakar
langit baru yang
didikasikan sebagai
pusat incubasi bisnis syariah
dan kegiatan sosial.
Niko mendunga,
matanya terpaku
pada layar televisi yang bersemut.
Di sana,
dia melihat sosok wanita
yang sangat anggun.
Jungna,
mantan istrinya.
Jungna terlihat jauh
lebih cantik dan bercahaya
dari pada yang pernah
Niko ingat.
Dia mengenakan
busana muslim modern
yang elegant,
dengan hijab
berwarna pastel yang membuatnya
terlihat berbibawan
namun tetap lembut.
Wajahnya berseri-seri,
senyumnya tulus
dan penuh percaya diri.
Di sampingnya
berdiri tuan baga skara,
yang tampak sehat
dan bangga-mendampingi
kepunakan kesayangannya.
Bukan Niko,
tapi Jungna.
Dalam tayangan itu,
Jungna
sedang menggunting pita persmihan,
disambut tepuk tangan
meraja dari para pejabat negara
dan pengusaha sukses yang hadir.
Wartawan berbut
mauawancaranya,
menanyakan rahasia
kesuksesannya.
Jungna menjawab
dengan rendah hati,
mengatakan bahwa
kunci kesuksesan
adalah kejujuran,
kerja keras,
dan keberanian
untuk membuang hal-hal negatif
dari hidup kita.
Kalimat terakhir itu
terasa seperti
tamparan jarak jauh
bagi Niko.
Dia tahu persis,
hal negatif,
apa yang di maksud Jungna.
Itu adalah dia.
Niko adalah hal negatif
yang telah dibuang,
dan lihatlah betapa tingginya
Jungna terbang
setelah beban itu lepas
dari kakinya.
Ayer mata menetek
dari mata Niko,
jatuh kepiring nasinya
yang hambar.
Rasas-sasak
memenuhi dadanya.
Penyesalan yang datang kali ini
terasa lebih menyakitkan,
karena dia melihat kontras
yang begitu nyata.
Seharusnya
dia ada di sana.
Seharusnya
dia berdiri di samping Jungna,
menikmati kesuksesan itu,
menjadi suami
dari wanita hebat itu.
Jika saja,
dia tidak seraka.
Jika saja,
dia tidak sombong.
Jika saja,
dia bisa menghargai istri
yang tulus mencintanya dulu,
hidupnya tidak
akan berakhir di tempat kotor ini.
Tapi nasi sudah menjadi
bubur,
dan bubur itu pun
sudah basi.
Dia telah membuang
berlihan demi menggenggam kotoran,
dan sekarang dia
harus hidup
berlumur kotoran itu
selamanya.
Narapid dan lain
yang melihat Niko
menangis hanya tertawa mengajek.
Melemparinya
dengan kulit kacang,
menambah kehinaannya.
Sementara itu,
di lokasi persmian
gedung baru,
aku menutup sesi wawancara
dengan senyum lega.
Udara di luar gedung
terasa sangat segar.
Langit biru cerah,
seolah ikut
merayakan pencapayan
ku hari ini.
Tuan baga sekarang
menepuk bahu-ku pelan.
Ibu-mu
dan ayah
mupaesti bangga
melihat musik sekarang.
Nak,
kamu bukan hanya
mempertahankan
warisan mereka,
tapi mengambangkan
jauh lebih besar.
Terima kasih,
Paman.
Ini semua
berkat dukungan
Paman juga,
jawab kutulus,
dan soal masalah
lalu, tuan baga
sekarar-ragu
sejenak.
Apakah kamu masih
memikirkannya?
Surat cerai sudah
resmi keluar bulan lalu.
Kan?
Aku mengangguk
mantap.
Sudah resmi?
Paman.
Aku sudah tidak
memikirkannya lagi.
Bagiku,
itu adalah
bab buku yang sudah
selesai dan ditutup rapat.
Tidak ada
dendam?
Tapi juga tidak ada
rindu.
Yang ada hanya
pelajaran berharga,
bahwa harga di riwanita
tidak ditentukan oleh
penilayan suami yang butahati,
tapi
oleh kualitas
dirinya sendiri.
Aku berjalan
menuju mobil
jemputan ku.
Bukan lagi
taksi atau kendaran umum,
tapi
sebuah mobil
sedang mewah yang nyaman,
hasil jiri payahku sendiri.
Pak Hadi,
yang kini sudah diangkat
menjadi kepala
di visi keamanan korporat,
membukakan
pintu untukku
dengan hormat.
Kali ini,
tidak ada suami yang menyuruhku
duduk di belakang
atau menghinaku.
Aku duduk di kursi
mana pun yang aku mau.
Aku adalah
nahoda bagi hidupku sendiri.
Sebelum masuk
ke mobil,
aku sempat menoleh
ke belakang,
melihat gedung tinggi
yang baru saja kurasmikan.
Kacak-kacak gedung itu
memantulkan cahaya mata hari,
berkilauan indah.
Aku teringat masa-masa sulit
saat aku harus menyamar,
menahan hinahan
dan bersabar
menghadapi penghianatan.
Semuara sesakit itu
kini telah terbayar lunas.
Aku bukan lagi korban.
Aku adalah penyintas yang menang.
Wanita yang dulu dihinas
bagi pembantu,
kini berdiri di puncak dunia.
Aku tersenium
pada bayangan ku
di kacajin dalam mobil.
Senyum
seorang wanita
yang merdekas utuhnya.
Tidak adalah giumna
yang menunduk takut.
Yang ada adalah
yumna al-zahra,
sang pemimpin,
sang ibu
dan wanita yang bahagia.
Jalan,
pahadi,
perintah kulembut,
siap,
buyumna,
kemana tujuan kita?
Kedepan,
menuju masa depan
yang lebih cerah.
Mobil melaju perlahan
meninggalkan kramayan,
membawa aku pergi menjauh
dari bayang-bayang
masalah lalu yang kelam,
menuju cakra wala baru
yang penuh harapan.
Dan dikejauhan sana,
di balik tembok penjauh
kerja yang dingin,
biarlah masa lalu
itu membusuk bersama
penyesalannya sendiri.
Keadilan telah menemukan
jalannya,
dan kisa ini berakhir
dengan kepuasan yang sempurna.